Details

Kemenag Perkuat Koordinasi Penanganan Dampak Gempa NTT, Fokus Pendidikan dan Rumah Ibadah

JAKARTA, UINSAIZU.AC.ID – Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat koordinasi penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penanganan difokuskan pada pemulihan lembaga pendidikan, rumah ibadah, kantor Kementerian Agama, serta warga dan aparatur Kemenag yang terdampak bencana.

Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Pengambilan Kebijakan Strategis di Lingkungan Kementerian Agama yang dipimpin Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i di Jakarta, Senin (24/8/2026). Rapat membahas sinkronisasi data lintas unit, evaluasi penanganan kelembagaan, serta tindak lanjut respons Kemenag terhadap dampak gempa di NTT.

Wamenag menegaskan pentingnya respons yang cepat dan terkoordinasi, baik terhadap masyarakat maupun aparatur Kemenag yang terdampak bencana.

“Kementerian Agama hadir. Semua langkah yang dibutuhkan agar kawan-kawan kita yang terdampak di sana tetap bisa melaksanakan tugasnya harus dikoordinasikan,” ujar Romo Syafi’i.

Gempa bumi yang terjadi di Laut Flores pada 15 Agustus 2026 telah menimbulkan kerusakan pada ratusan rumah ibadah, baik gereja, masjid, maupun vihara. Puluhan lembaga pendidikan juga mengalami kerusakan, termasuk kantor Kemenag di tingkat kabupaten/kota. Sementara itu, ribuan warga harus mengungsi setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa.


Kemenag Siapkan Pembelajaran Darurat


Seiring dengan pemutakhiran data kerusakan, Kemenag juga menyiapkan skema pembelajaran darurat agar aktivitas pendidikan tetap berjalan selama masa tanggap bencana.

Sebagai tindak lanjut, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) telah menerjunkan tim ke wilayah terdampak. Tim tersebut menyalurkan sebanyak 1.010 paket bantuan darurat (kits) serta mendirikan tenda-tenda pengungsian di sejumlah lokasi terdampak.

Tenda yang didirikan tidak hanya difungsikan sebagai tempat pengungsian, tetapi juga disiapkan sebagai ruang kelas sementara. Pembelajaran dapat dilaksanakan secara bergilir sehingga peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan meskipun sejumlah bangunan madrasah belum dapat digunakan secara optimal.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenag memastikan bencana tidak memutus keberlangsungan pendidikan bagi peserta didik di wilayah terdampak. Penanganan madrasah dilakukan secara bertahap melalui asesmen kerusakan, penyaluran bantuan, serta pemulihan kegiatan belajar mengajar.


Data Kerusakan Jadi Dasar Penyaluran Bantuan


Penguatan respons Kemenag terhadap gempa NTT juga bertumpu pada pemutakhiran data. Kemenag bersama jajaran Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Kantor Wilayah Kemenag NTT terus melakukan asesmen terhadap kondisi madrasah, fasilitas pendidikan, serta rumah ibadah lintas agama.

Asesmen dilakukan di lima kabupaten terdampak. Seluruh informasi dihimpun melalui pusat data satu pintu yang dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait.

Pusat data tersebut menjadi instrumen penting untuk memastikan kondisi di lapangan dapat dipetakan secara akurat. Data yang terkumpul selanjutnya menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan serta prioritas penyaluran bantuan dan pemulihan.

Selain memetakan kerusakan fasilitas pendidikan dan rumah ibadah, Kemenag juga melakukan pendataan terhadap aparatur yang terdampak gempa. Data terbaru mencatat sebanyak 497 ASN Kemenag terdampak di wilayah Pulau Flores dan Pulau Timor.

Kemenag saat ini juga menyiapkan skema bantuan dana tanggap bencana bagi ASN yang rumahnya mengalami kerusakan parah akibat gempa. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban aparatur yang terdampak sekaligus membantu mereka kembali menjalankan aktivitas dan tugas kedinasan.

Dengan pemutakhiran data dan penyediaan ruang belajar sementara, Kemenag berupaya menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di tengah kondisi pascabencana. Penanganan dampak gempa NTT diarahkan berjalan secara terkoordinasi, mulai dari pendataan, asesmen kerusakan, pemenuhan kebutuhan darurat, hingga pemulihan fasilitas pendidikan dan rumah ibadah.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pijakan bagi Kemenag dalam menentukan kebutuhan pemulihan madrasah dan fasilitas keagamaan secara lebih terukur setelah masa tanggap darurat berakhir. Dengan koordinasi lintas unit dan dukungan kementerian serta lembaga terkait, penanganan dampak gempa di NTT diharapkan dapat berlangsung secara cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan. (AL)

 

Kampus Desa Mendunia !

 

#UINSaizu #Kemenag #KemenagPeduli #GempaNTT #Kampusdesamendunia

  •  

Post Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *